ASESMEN AUTENTIK PDF

Posted on Pendahuluan Dalam pendidikan, asesmen seharusnya didasarkan pada pengetahuan kita tentang belajar dan tentang bagaimana kompetensi berkembang dalam materi pelajaran yang kita ajarkan. Hal ini merupakan kebutuhan yang sangat jelas untuk membuat suatu asesmen dimana pendidik dapat mempergunakannya untuk meningkatkan kegiatan pendidikan dan mengawasi hasil belajar dan mengajar yang kompleks. Dari beberapa penelitian ditemukan bahwa para guru mengajar untuk memberikan keterampilan pada siswa untuk belajar dan mempraktekkan bagaimana mengaplikasikan pengetahuan dan keterampilannya untuk tujuan yang nyata dan jelas. Penilaian kinerja yang berkisar dari jawaban yang relative pendek sampai pada proyek jangka panjang yang meminta para siswa untuk memperagakan hasil kerjanya, dan hal ini membutuhkan peran serta pemikiran tingkat tinggi siswa untuk menyatukan beberapa keterampilan yang berbeda-beda. Dalam suatu sistem penilaian yang lengkap, bagaimana-pun semestinya terdapat keseimbangan antara penilaian kinerja yang lebih pendek dan juga lebih panjang.

Author:Mashura Bajas
Country:Uganda
Language:English (Spanish)
Genre:Photos
Published (Last):1 August 2007
Pages:101
PDF File Size:1.83 Mb
ePub File Size:3.54 Mb
ISBN:370-2-33356-328-2
Downloads:6479
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Mikarr



Festiyed, MS, Email: festiyed ymail. Dalam dunia kerja saat ini kemampuan yang diminta adalah kemampuan untuk bekerja sama dalam team, kemampuan pemecahan masalah, kemampuan untuk mengarahkan diri, berpikir kritis, menguasai teknologi serta mampu berkomunikasi dengan efektif.

Kemampuan- kemampuan tersebut diatas dicita-citakan terlaksana seutuhnya oleh generasi emas tahun Indonesia merdeka. Mewujudkan generasi emas dihadapkan dengan sejumlah tantangan dan peluang, yang tentunya berbeda dengan zaman sebelumnya.

Guna mengantisipasi dan menyesuaikan dinamika perubahan yang sedang dan akan terus berlangsung, Badan Standar Nasional Pendidikan BNSP , pada tahun telah berupaya mengkonsepsikan pendidikan Indonesia untuk abad ke Grand design menjadi rujukan konseptual dan operasional pengembangan, pelaksanaan, dan penilaian pada setiap jalur dan jenjang pendidikan.

Konfigurasi karakter dalam konteks totalitas proses psikologis dan sosial-kultural tersebut dikelompokan dalam: Olah Hati Spiritual and emotional development , Olah Pikir intellectual development , Olah Raga dan Kinestetik Physical and kinestetic development , dan Olah Rasa dan Karsa Affective and Creativity development. Pengembangan dan implementasi pendidikan karakter perlu dilakukan dengan mengacu pada grand design tersebut. Diperlukan Paradigma baru dalam pendidikan agar mampu menciptakan generasi emas yang mempunyai kemampuan belajar, beradaptasi dan berinovasi, dimana sekarang masih tersembunyi.

Kurikulum untuk pendidikana dasar, dan kurikulum berdasarkan deskripsi kerangka kualifikasi nasional indonesia KKNI Peraturan Pemerintah No. Kerjasama yang harmonis dan terus menerus antara seluruh insan pendidikan, pemerintah, pemerintah daerah, organisasi yang bergerak di dunia pendidikan diperlukan untuk mewujudkan generasi emas yang berkarakter, cerdas, dan kompetitif. Salah satu usaha lansung yang dapat dilakukan oleh organisasi yang bergerak di dunia pendidikan khususnya pendidik melahirkan generasi emas adalah melalui model pembelajaran autentik dengan penilaiaan asesmen autentik pula.

Pembelajaran kurikulum adalah pembelajaran kompetensi dengan memperkuat proses pembelajaran dan penilaian autentik untuk mencapai kompetensi sikap, pengetahuan dan keterampilan. Penguatan penilaian autentik mencakup pengembangan ranah sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Ketiga ranah kompetensi tersebut memiliki lintasan perolehan proses psikologis yang berbeda. Sikap diperoleh melalui aktivitas menerima, menjalankan, menghargai, menghayati, dan mengamalkan. Pengetahuan diperoleh melalui aktivitas mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta.

Keterampilan diperoleh melalui aktivitas mengamati, menanya, mencoba, menalar, menyaji, dan mencipta. Untuk mendorong kemampuan peserta didik menghasilkan karya kontekstual, baik individual maupun kelompok maka sangat disarankan menggunakan pendekatan pembelajaran yang menghasilkan karya berbasis pemecahan masalah project based learning.

Pembelajaran saintifik merupakan pembelajaran yang mengadopsi langkah-langkah saintis dalam membangun pengetahuan melalui metode ilmiah. Pendekatan pembelajaran saintifik tidak hanya memandang hasil belajar sebagai muara akhir, namum proses pembelajaran dipandang sangat penting.

Oleh karena itu pembelajaran saintifik menekankan pada keterampilan proses. Model pembelajaran berbasis peningkatan keterampilan proses sains adalah model pembelajaran yang mengintegrasikan keterampilan proses sains ke dalam sistem penyajian materi secara terpadu Beyer, Model ini menekankan pada proses pencarian pengetahuan dari pada transfer pengetahuan, peserta didik dipandang sebagai subjek belajar yang perlu dilibatkan secara aktif dalam proses pembelajaran, guru hanyalah seorang fasilitator yang membimbing dan mengkoordinasikan kegiatan belajar.

Dalam model ini peserta didik diajak untuk melakukan proses pencarian pengetahuan berkenaan dengan materi pelajaran melalui berbagai aktivitas proses sains sebagaimana dilakukan oleh para ilmuwan scientist dalam melakukan penyelidikan ilmiah Nur: , dengan demikian peserta didik diarahkan untuk menemukan sendiri berbagai fakta, membangun konsep, dan nilai-nilai baru yang diperlukan untuk kehidupannya.

Fokus proses pembelajaran diarahkan pada pengembangan keterampilan siswa dalam memproseskan pengetahuan, menemukan dan mengembangkan sendiri fakta, konsep, dan nilai-nilai yang diperlukan Semiawan: Pembelajaran dengan pendekatan saintifik tidakakan bermakna kalau tidak menggunakan penilaian autentuk.

Penilaian autentik merupakan penilaian yang dilakukan secara komprehensif untuk menilai mulai dari masukan input , proses, dan keluaran output pembelajaran, yang meliputi ranah sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Penilaian autentik menilai kesiapan peserta didik, serta proses dan hasil belajar secara utuh. Asesmen autentik mengharuskan pembelajaran yang autentik pula. Menurut Ormiston belajar autentik mencerminkan tugas dan pemecahan masalah yang diperlukan dalam kenyataannya di luar sekolah.

Asesmen Autentik terdiri dari berbagai teknik: 1. Pengukuran langsung keterampilan peserta didik yang berhubungan dengan hasil jangka panjang pendidikan seperti kesuksesan di tempat kerja. Penilaian atas tugas-tugas yang memerlukan keterlibatan yang luas dan kinerja yang kompleks. Analisis proses yang digunakan untuk menghasilkan respon peserta didik atas perolehan sikap, keteampilan, dan pengetahuan yang ada.

Dengan demikian, asesmen autentik akan bermakna bagi pendidik untuk menentukan cara-cara terbaik agar semua peserta didik dapat mencapai hasil akhir, meski dengan satuan waktu yang berbeda.

Konstruksi sikap, keterampilan, dan pengetahuan dicapai melalui penyelesaian tugas di mana peserta didik telah memainkan peran aktif dan kreatif. Keterlibatan peserta didik dalam melaksanakan tugas sangat bermakna bagi perkembangan pribadi mereka. Dalam pembelajaran autentik, peserta didik diminta mengumpulkan informasi dengan pendekatan saintifik, memahahi aneka fenomena atau gejala dan hubungannya satu sama lain secara mendalam, serta mengaitkan apa yang dipelajari dengan dunia nyata yang luar sekolah.

Di sini, guru dan peserta didik memiliki tanggung jawab atas apa yang terjadi. Peserta didik pun tahu apa yang mereka ingin pelajari, memiliki parameter waktu yang fleksibel, dan bertanggungjawab untuk tetap pada tugas. Asesmen autentik pun mendorong peserta didik mengkonstruksi, mengorganisasikan, menganalisis, mensintesis, menafsirkan, menjelaskan, dan mengevaluasi informasi untuk kemudian mengubahnya menjadi pengetahuan baru.

Untuk bisa melaksanakan pembelajaran autentik, guru harus memenuhi kriteria tertentu seperti disajikan berikut ini. Mengetahui bagaimana menilai kekuatan dan kelemahan peserta didik serta desain pembelajaran. Mengetahui bagaimana cara membimbing peserta didik untuk mengembangkan pengetahuan mereka sebelumnya dengan cara mengajukan pertanyaan dan menyediakan sumberdaya memadai bagi peserta didik untuk melakukan akuisisi pengetahuan.

Menjadi pengasuh proses pembelajaran, melihat informasi baru, dan mengasimilasikan pemahaman peserta didik. Menjadi kreatif tentang bagaimana proses belajar peserta didik dapat diperluas dengan menimba pengalaman dari dunia di luar tembok sekolah. Asesmen autentik adalah komponen penting dari reformasi pendidikan sejak tahun an. Tes semacam ini telah gagal memperoleh gambaran yang utuh mengenai sikap, keterampilan, dan pengetahuan peserta didik dikaitkan dengan kehidupan nyata mereka di luar sekolah atau masyarakat.

Asesmen hasil belajar yang tradisional bahkan cenderung mereduksi makna kurikulum, karena tidak menyentuh esensi nyata dari proses dan hasil belajar peserta didik. Ketika asesmen tradisional cenderung mereduksi makna kurikulum, tidak mampu menggambarkan kompetensi dasar, dan rendah daya prediksinya terhadap derajat sikap, keterampilan, dan kemampuan berpikir yang diartikulasikan dalam banyak mata pelajaran atau disiplin ilmu; ketika itu pula asesmen autentik memperoleh traksi yang cukup kuat.

Memang, pendekatan apa pun yang dipakai dalam penilaian tetap tidak luput dari kelemahan dan kelebihan. Namun demikian, sudah saatnya guru profesional pada semua satuan pendidikan memandu gerakan memadukan potensi peserta didik, sekolah, dan lingkungannya melalui asesmen proses dan hasil belajar yang autentik.

Data asesmen autentik digunakan untuk berbagai tujuan seperti menentukan kelayakan akuntabilitas implementasi kurikulum dan pembelajaran di kelas tertentu. Data asesmen autentik dapat dianalisis dengan metode kualitatif, kuanitatif, maupun kuantitatif.

Analisis kualitatif dari asesmen otentif berupa narasi atau deskripsi atas capaian hasil belajar peserta didik, misalnya, mengenai keunggulan dan kelemahan, motivasi, keberanian berpendapat, dan sebagainya.

Analisis kuantitatif dari data asesmen autentik menerapkan rubrik skor atau daftar cek checklist untuk menilai tanggapan relatif peserta didik relatif terhadap kriteria dalam kisaran terbatas dari empat atau lebih tingkat kemahiran misalnya: sangat mahir, mahir, sebagian mahir, dan tidak mahir. Rubrik penilaian dapat berupa analitik atau holistik. Pada awalnya istilah asesmen autentik diperkenalkan oleh Wiggins tahun untuk menyesuaikan dengan yang biasa dilakukan oleh orang dewasa sebagai reaksi menentang penilaian berbasis sekolah seperti mengisi titik-titik, tes tertulis, pilihan ganda, kuis jawaban singkat.

Jadi dikatakan otentik dalam arti sesungguhnya dan realistis. Apabila kita melihat di tempat kerja, orang-orang tidak diberikan tes pilihan ganda untuk menguji bisa tidaknya mereka melakukan pekerjaan tersebut. Mereka mempunyai performansi, kinerja atau unjuk kerja. Dalam bisnis dikatakan performance assessment. Menurut Jon Mueller penilaian otentik merupakan suatu bentuk penilaian yang para siswanya diminta untuk menampilkan tugas pada situasi yang sesungguhnya yang mendemonstrasikan penerapan keterampilan dan pengetahuan esensial yang bermakna.

Pendapat serupa dikemukakan oleh Richard J. Stiggins , bahkan Stiggins menekankan keterampilan dan kompetensi spesifik, untuk menerapkan keterampilan dan pengetahuan yang sudah dikuasai. Grant menekankan perlunya kinerja ditampilkan secara efektif dan kreatif. Selain itu tugas yang diberikan dapat berupa pengulangan tugas atau masalah yang analog dengan masalah yang dihadapi orang dewasa warganegara, konsumen, professional di bidangnya.

Asesmen otentik lebih sering dinyatakan sebagai asesmen berbasis kinerja performance based assessment. Sementara itu dalam buku-buku lain kecuali Wiggins penilaian otentik disamakan saja dengan nama penilaian alternatif alternative assessment atau penilaian kinerja performance assessment.

Selain itu Mueller memperkenalkan istilah lain sebagai padanan nama penilaian otentik, yaitu penilaian langsung directassessment. Nama performance assessment atau performance based assessment digunakan karena siswa diminta untuk menampilkan tugas-tugas tasks yang bermakna.

Terdapat sejumlah pakar pendidikan yang membedakan penggunaan istilah penilaian otentik dengan penilaian kinerja, seperti misalnya Meyer dan Marzano Sementara itu Stiggins dan Mueller menggunakan kedua istilah itu secara sinomim. Nama alternative assessment digunakan karena merupakan alternatif dari penilaian yang biasa digunakan traditional assessment.

Adapun nama direct assessment digunakan karena penilaian otentik menyediakan lebih banyak bukti langsung dari penerapan keterampilan dan pengetahuan. Apabila seorang siswa dapat mengerjakan dengan baik tes pilihan ganda, maka kita inferensikan secara tidak langsung indirectly bahwa siswa tersebut dapat menerapkan pengetahuan yang telah dipelajarinya dalam konteks dunia yang sesungguhnya. Namun kita akan lebih suka membuat inferensi dari suatu demonstrasi langsung tentang penerapan pengetahuan dan keterampilannya.

Berdasarkan fokusnya asesmen dapat dikelompokkan sebagai asesmen diagnostik, formatif, dan sumatif. Asesmen diagnostik berfokus untuk memperbaiki proses pembelajaran atau untuk menentukan hasil-hasil pembelajaran. Asesmen formatif berfokus pada proses pembelajaran dan hasil-hasil pembelajaran.

Sedang Asesmen sumatif, terutama difokuskan pada hasil-hasil pembelajaran. Beberapa istilah untuk asesmen diantaranya: asesmen tradisional, asesmen autentik, asesmen alternatif, dan asesmen informal.

Assesmen tradisional AT ini mengacu pada forced-choice ukuran tes pilihan ganda, fill-in-the-blank, true-false, menjodohkan dan semacamnya yang telah digunakan dalam pendidikan umumnya. Tes ini memungkinkan distandarisasi atau dikreasi oleh guru. Mereka dapat mengatur setingkat lokal, nasional atau secara internasional Mueller, Esensi assesmen tradisional didasarkan pada filosofi bidang pendidikan yang mengadopsi pemikiran yang berikut: 1.

Suatu misi sekolah adalah untuk mengembangkan warganegara produktif, 2 Untuk menjadi warganegara produktif setiap orang harus memiliki suatu kopetensi tertentu dari pengetahuan dan ketrampilan 3 Oleh karena itu sekolah harus mengajarkan kopetensi ketrampilan dan pengetahuan ini: 4 Untuk menentukan kopetensi itu sukses, kemudian sekolah menguji para siswa, untuk melihat apakah mereka memperoleh pengetahuan dan ketrampilan.

Di dalam assesmen tradisional, kurikulum memandu penilaian. Kopetensi pengetahuan ditentukan lebih dulu.

Pengetahuan itu menjadi kurikulum yang ditransferkan. Sesudah itu penilaian dikembangkan dan diatur untuk menentukan jika suatu saat kurikulum tersebut diterapkan. Asesmen Alternatif Alternative Assessment Asesmen yang tidak melibatkan suatu tes baku dengan butir-butir asesmen tradisional. Asesmen alternatif memfokus pada pengukuran pengetahuan prosedural. Asesmen ini mencakup sejumlah prosedur yang digunakan untuk mengumpulkan informasi tentang apa yang siswa ketahui, ia yakini, dan dapat ia lakukan.

Asesmen ini memfokus pada pertumbuhan perorangan siswa dari waktu ke waktu dan menekankan pada kekuatan bukan kelemahan siswa. Pertimbangan diberikan pada gaya belajar perorangan siswa dan tingkat keterampilannya. Menurut Mertler, dalam Classroom Assessment: A Practical Guide for Educators, bentuk penilaian berdasarkan alat penilaian dalam asesmen alternative berupa asesmen kinerja Performance Assessment , asesmen informal informal assessment , observasi Observation , penggunaan pertanyaan Questioning , Presentasi Presentation , diskusi Discusions , Projek Project , investigasi atau penyelidikan Investigation , Portofolio Portofolio , Jurnal Journal , Wawancara Interview , Konferensi, dan Evaluasi diri oleh siswa Self Evaluation.

Asesmen informal merupakan asesmen siswa melalui pengamatan tidak resmi, interviu informal, dan prosedur-prosedur tidak-baku.

BIAAPA MASTER PLAN 2021 PDF

Seputar Pengertian Asesmen Otentik

Rahardjo, M. Dalam kesempatan ini kami mengucapkan terimakasih kepada Dr. Kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih terdapat kekurangan, baik dari segi penyusunan, bahasa, ataupun penulisannya. Oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun, khususnya dari dosen mata kuliah guna menjadi acuan dalam bekal pengalaman bagi kami untuk lebih baik di masa yang akan datang. Hal ini merupakan kebutuhan yang sangat jelas untuk membuat suatu asesmen dimana pendidik dapat mempergunakannya untuk meningkatkan kegiatan pendidikan dan mengawasi hasil belajar dan mengajar yang kompleks. Dari beberapa penelitian ditemukan bahwa para guru mengajar untuk memberikan keterampilan pada siswa untuk belajar dan mempraktekkan bagaimana mengaplikasikan pengetahuan dan keterampilannya untuk tujuan yang nyata dan jelas. Penilaian kinerja yang berkisar dari jawaban yang relatif pendek sampai pada proyek jangka panjang yang meminta para siswa untuk memperagakan hasil kerjanya, dan hal ini membutuhkan peran serta pemikiran tingkat tinggi siswa untuk menyatukan beberapa keterampilan yang berbeda-beda.

HALIMBAWA NG PAMANAHONG PAPEL SA FILIPINO PDF

Penilaian autentik

Ketidakpastian dan ambiguitas dari perubahan dapat dihadapi secara terbuka, di mana setiap individu memiliki keterampilan-keterampilan yang diperlukannya agar dapat hidup lebih nyaman dengan adanya perubahan daripada dengan adanya kepastian. Pembelajaran dan asesmen autentik adalah suatu cara untuk memfasilitasi peserta didik untuk berfikir kreatif, kritis, efektif dan inovatif. Melalui cara ini diharapkan lulusan mampu memberikan pelayanan yang profesional sebagai pendidik. Guru diharapkan dapat menyediakan pengalaman belajar dan asesmen yang beragam baik mental, fisik dan sosial, sehingga pengetahuan, sikap dan ketrampilan berkembang seimbang. Perubahan itu telah berdampak pada setiap aspek kehidupan, termasuk pada system pendidikan dan pembelajaran di PPS Universitas Negeri Padang. Untuk mengaktualisasikannya ada dua pendekatan yang dapat dilakukan yaitu: Pengembangan sumber daya manusia dan pengembangan kemampuan manusia yang saling melengkapi, 1. Pengembangan kemampuan manusia atau Human Capacity Development HCD sepanjang hayat yang berhak dan mampu memilih berbagai peran dalam meraih berbagai peluang partisipasi, sebagai anggota masyarakat, sebagai orang tua, atau sebagai pekerja dan konsumen, yaitu suatu perkembangan yang arah dan sasarannya terutama terjadi dari dalam, namun disulut untuk aktualisasinya.

Related Articles